Selasa, 10 Mei 2016

Laki Laki Pariaman



 Laki Laki Pariaman

Minangkabau adalah sebuah etnis yang menganut sistim kekerabatan Matrilineal, artinya identitas seseorang anak Minangkabau diturunkan melalui keluarga ibu. Di Minangkabau posisi perempuan sangat dilindungi oleh adat, mulai dari tempat tinggal, pusaka, hingga harta warisan jatuh ketangan perempuan. Ketika perempuan berkeluarga pihak laki-laki haruslah menyiapkan uang dapur untuk pihak perempuan. Tidak sampai disitu, sang suami haruslah tinggal dirumah perempuan. Statusnya sebagai tamu.
Laki-laki di Minangkabau ibarat abu dalam tungku, sekali hembus langsung terbang. Karena laki-laki di Minangkabau tidak mempunyai sesuatu untuk memperkuat posisinya. Tidak punya kamar didalam rumah gadang. Tinggal dirumah istri pun sebagai tamu. Dari kecil jika sudah baligh, haruslah tinggal di surau. Jika ia duda, tetap tinggal disurau. Tidak mendapat harta warisan. Bahkan harta yang dia cari pun tidak haknya seluruhnya. Harta itu untuk anak dan istri. Makanya salah satu pendorong laki-laki Minang merantau zaman dahulu adalah karena posisi laki laki tidaklah sekokoh posisi perempuan.
Biasanya setelah ia berpenghasilan dari rantau, barulah ia pulang untuk beristri. Menunaikan kewajiban agama dan adat. Memperoleh gelar yang diturunkan dari mamaknya, dan inilah satu-satunya kebanggaan laki-laki Minangkabau secara adat.
Lain lubuk lain pula ikannya, begitu yang terjadi di Pariaman. Posisi laki-laki disini sangat istimewa secara adat. Apabila ia ingin menikah, haruslah ada uang jemputan dari pihak perempuan. Dahulu besarannya ditentukan dari gelar dan pekerjaannya. Jika laki-laki Minangkabau pada umumnya hanya mempunyai satu gelar. Laki-laki Pariaman mempunyai dua gelar. Satu dari mamaknya satu lagi dari bapaknya. Gelar dari bapak seperti : Sidi ( ini tingkatan paling atas karena berketurunan dari ulama ), Bagindo ( berketurunan dari raja raja), dan yang terakhir Sutan ( biasanya dari pedagang dan pendatang ). Oleh sebab itu laki-laki di Pariaman sama berharganya dengan perempuan. Orang tua dengan semangat menyekolahkan anaknya sampai jenjang yang paling tinggi karena motivasi uang jemputan. Bukan berarti orang tua di Pariaman itu materialistis. Karena semakin tinggi uang jemputan maka itu menandakan status kehormatan sebuah keluarga akan semakin tinggi. Sederhananya ini tentang harga diri.
Lalu bagaimana dengan pihak perempuan apakah ia merasa rugi? tentu saja tidak. Pada malam baralek dirumah pihak perempuan, diadakanlah malam badoncek yang artinya malam dimana seluruh sanak saudara, orang orang kampung bersatu mengumpulkan uang. Malam badoncek adalah tentang harga diri, terutama dari pihak keluarga perempuan. Uang sumbangan akan diumumkan didepan orang banyak yang akan memacu harga diri agar tak kalah dari pihak keluarga lainnya dalam hal nominal sumbangan. Tak jarang tradisi badoncek menyebabkan pihak perempuan mendapat keuntungan yang lebih, bahkan melebihi uang jemputan terhadap marapulai. Betapa beruntungnya menjadi laki laki Pariaman dan Perempuan Pariaman. Atau bahasa ilmiahnya simbiosis mutualisme ( saling menguntungkan ).
Fenomena di Pariaman ini kalau di kaji secara adat masuk dalam kategori adat nan diadatkan, karena pengertian dari adat nan diadatkan adalah peraturan yang dibuat secara mufakat atau musyawarah yang hanya melingkupi suatu daerah atau nagari. Jadi aturan aturan yang dibuat hanya berlaku pada satu daerah dan tidak berlaku untuk daerah lainnya. Begitu juga seperti Payakumbuh, Agam dan daerah lainnya di Minangkabau mempunyai Adat nan diadatkan tersendiri, baik aturan tentang perkawinan maupun aturan lainnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar