Akhir-akhir
ini isu kenaikan harga rokok begitu ramai menyita perhatian semua kalangan. Ada
yang pro dan ada yang kontra. Disini saya memposisikan diri sebagai orang yang
ingin berfikir adil. Dari kalangan yang setuju harga rokok naik sangat gencar
mensosialisasikan bahaya rokok, entah itu dari sudut pandang agama, kesehatan
dan lain-lain. Dari kalangan yang tidak setuju mulai menghadirkan data-data
dampak apabila harga rokok dinaikan.
Mulai dari menambah angka pengangguran sampai mengurangi pendapatan Negara.
Secara
pribadi saya sangat setuju apabila harga rokok dinaikan karena harus diakui
bahwa rokok berdampak buruk bagi kesehatan. Tapi tidak bisa dipungkiri juga
bahwa menaikan harga rokok pasti berdampak pada ekonomi, khususnya lapangan
pekerjaan. Ya, kita hanya menunggu kebijaksanaan pemerintah. Memprioritaskan
kesehatan atau per-ekonomi-an.
Saya
tidak ingin menentang tentang rokok itu haram atau tidak, karena kata teman
saya itu sangatlah sensitive. Disini saya ingin membandingkan bahaya asap rokok
dan asap knalpot pada kendaraan roda dua dan empat. Sekali saya tegaskan, bahwa
saya mendukung harga rokok naik. Tapi dilain sisi saya ingin mengkritisi (
bolehkan mengkritik? ) sikap mayarakat yang menganggap perokok itu adalah
pendosa besar , tidak sayang diri sendiri dan keluarga . Banyak kok orang-orang
hebat yang perokok, Soekarno, Chairil Anwar, Pram dan lain-lain. Tapi tidak
adil rasanya jika kita men-judge mereka ini seperti yang tadi disampaikan.
Bagaimana dengan asap knalpot? Mengapa tidak ada yang menuntut dinaikannya
harga kendaraan berbahan bakar minyak? Padahalkan menghasilkan asap yang kadar
racunnya serupa rokok. Ok sekali lagi saya tegaskan, saya mendukung harga rokok
naik. Kenapa saya berulang kali menegaskannya. Karena sebagian menuduh saya
menentang kenaikan harga rokok dan mencari pembenaran atasnya. Kembali ke knalpot, disaat banyak orang
mengkampanyekan anti asap rokok kenapa hanya sebagian kecil yang
mengkampanyekan anti asap knalpot? Ok karena kendaraan merupakan alat
transportasi yang sangat dibutuhkan. Tapi rasanya tidak adil jika kita anti
terhadap satu hal padahal ada sesuatu yang serupa yang tak kalah pentingnya
disorot, terutama perihal kesehatan.
Sebenarnya
saya ingin membandingkan tentang fatwa haram rokok dengan asap knalpot. Tingkat
bahayanya yang sama, mungkin lebih bahaya asap knalpot karena harus diakui kita
lebih sering menghirup asap knalpot dari pada asap rokok. Tapi kata teman saya,
masalah agama adalah masalah yang sensitive. Tabu untuk diperbincangkan.
