Kamis, 28 Januari 2016

TIDAK BENAR ADA PEMBANTAIAN MASSAL ETNIS CINA DI PARIAMAN




Sebagai warga Sumatra Barat khususnya Pariaman, kita pasti akrab sekali dengan cerita pembantaian Etnis Cina di Pariaman. Ada yang mengatakan Etnis Cina dibantai secara massal atau ada pula yang mengatakan bahwa Etnis Cina diusir dari Pariaman. Semua cerita diatas hanya cerita dari mulut kemulut yang belum bisa dibuktikan keabsahannya. Tapi cerita tersebut sudah terlanjur di ’’iyakan’’ oleh masyarakat.
Untuk memperjelas bagaimana kronologis peristiwa tersebut saya berusaha menyajikan data yang bersumber dari buku dan hasil penelitian. Dibuku yang ditulis oleh Bagindo Armaidi Tanjung yang berjudul Kehidupan Banagari Di Kota Pariaman, diceritakan bahwa kehidupan Etnis Cina di Pariaman dahulunya sangat harmonis dengan masyarakat pribumi. Umumnya profesi Etnis Cina adalah pedagang. Lantas kenapa Etnis Cina menghilang dari Pariaman?
Pada masa transisi kekuasaan dari Jepang ke pemerintah Indonesia yang baru merdeka. Jepang yang baru saja kalah pada perang pasifik oleh sekutu, nyaris membuat kondisi tak menentu hampir diseluruh wilayah Indonesia. Awal tragedi yaitu ketika salah satu Etnis Cina yang bernama Too Ghan salah seorang toke yang membuka lapau di Kp. Nieh (Kp. Baru sekarang) dicurigai menjadi mata mata Jepang. Peristiwa tersebut terjadi dalam suasana pelucutan senjata bala tentara Jepang, tepatnya 2 bulan setelah di proklamirkannya kemerdekaan Indonesia. Sebuah iring iringan padati tentara Jepang yang melintasi jalan raya Pariaman-Sungai Limau. Ada sekitar 3 atau empat padati yang membawa lunsum untuk persediaan Jepang Selama di Pariaman. Meskipun beriringan jarak antara padati satu dengan yang lainnya agak berjauhan. Momen ini lalu dimanfaatkan oleh para pemuda pejuang untuk menyergap salah satu gerobak. Padatinya disembunyikan disuatu tempat. Ketika rombongan tentara Jepang sampai dimarkasnya dan melihat hilangnya salah satu gerobak padati, Jepang menyadari telah terjadi insiden sabotase. Kemudian Jepang melakukan sweping dan menyebarkan mata mata di jalan yang di lalui padati tersebut.
Esok harinya masyarakat Pariaman dikejutkan oleh mobilisasi tentara Jepang ke Pauh. Pauh pun dikepung Jepang dari berbagai penjuru. Para pemuda ditangkap dan sebagian melarikan diri. Pemuda pejuang menduga ada yang membocorkan penyergapan padati kemarin. Hasil penyelidikan, dicurigai Too Ghan pemilik lapau kopi di Kp. Nieh. Dia pagi pagi sekali telah berada di Pasar Pauh. Ada yang melaporkan bahwa Too Ghan tidak seperti biasanya, sambil membeli daging ia menunjukan tingkah mencurigakan. Dia selalu bertanya pada orang lain tentang peristiwa penyergapan terhadap gerobak padati Jepang. Selama dua hari dilakukan penyelidikan, kesimpulannya adalah benar bahwa ia adalah mata mata Jepang. Malam harinya Too Ghan diciduk dirumahnya dan langsung dibawa kesuatu tempat. Penagkapan juga dilakukan terhadap adik perempuannya yang ikut membantu Too Ghan menjadi mata mata. Keduanya lalu di bunuh dan dikuburkan disekitar rel kereta api antara Kp. Nieh dan Kp. Kaliang.
Esok harinya Etnis Cina buncah mendengar kabar “pembantaian” dua orang Cina . Etnis cina beramai ramai menemui ketua mereka Kapten Chai . Menyaksikan suasana penuh ketakutan dikalangan warganya , dan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Kapten Chai segera mengeluarkan seruan. Hari itu warga Cina diminta untuk segera meninggalkan Pariaman. Maka terjadilah eksodus besar besaran Etnis Cina dari Pariaman.
Pertanyaanya benarkah ada rencana untuk menghabisi Etnis Cina dikalangan pejuang? Kala itu tak pernah ada niat untuk menghabisi Etnis Cina. Hanya kebetulan pada waktu itu yang menjadi mata mata adalah Too Ghan dan adiknya yang berasal dari Etnis Cina. Serta tidak ada pengusiran terhadap Etnis Cina dari Pariaman. Etnis Cina melakukan eksodus besar besaran dari Pariaman atas seruan Kapten Chai, karena tidak adanya jaminan keamanan dan keselamatan dari para tokoh di Pariaman. Itu saja, tidak lebih.

Sumber : Bagindo Armaidi Tanjung (dkk), Kehidupan Banagari Di Kota Pariaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar