Sebagai warga Sumatra
Barat khususnya Pariaman, kita pasti akrab sekali dengan cerita pembantaian Etnis
Cina di Pariaman. Ada yang mengatakan Etnis Cina dibantai secara massal atau
ada pula yang mengatakan bahwa Etnis Cina diusir dari Pariaman. Semua cerita
diatas hanya cerita dari mulut kemulut yang belum bisa dibuktikan keabsahannya.
Tapi cerita tersebut sudah terlanjur di ’’iyakan’’ oleh masyarakat.
Untuk memperjelas
bagaimana kronologis peristiwa tersebut saya berusaha menyajikan data yang
bersumber dari buku dan hasil penelitian. Dibuku yang ditulis oleh Bagindo
Armaidi Tanjung yang berjudul Kehidupan
Banagari Di Kota Pariaman, diceritakan bahwa kehidupan Etnis Cina di Pariaman
dahulunya sangat harmonis dengan masyarakat pribumi. Umumnya profesi Etnis Cina
adalah pedagang. Lantas kenapa Etnis Cina menghilang dari Pariaman?
Pada masa transisi
kekuasaan dari Jepang ke pemerintah Indonesia yang baru merdeka. Jepang yang
baru saja kalah pada perang pasifik oleh sekutu, nyaris membuat kondisi tak
menentu hampir diseluruh wilayah Indonesia. Awal tragedi yaitu ketika salah
satu Etnis Cina yang bernama Too Ghan salah seorang toke yang membuka lapau di Kp.
Nieh (Kp. Baru sekarang) dicurigai menjadi mata mata Jepang. Peristiwa tersebut
terjadi dalam suasana pelucutan senjata bala tentara Jepang, tepatnya 2 bulan
setelah di proklamirkannya kemerdekaan Indonesia. Sebuah iring iringan padati tentara
Jepang yang melintasi jalan raya Pariaman-Sungai Limau. Ada sekitar 3 atau
empat padati yang membawa lunsum untuk persediaan Jepang Selama di Pariaman.
Meskipun beriringan jarak antara padati satu dengan yang lainnya agak
berjauhan. Momen ini lalu dimanfaatkan oleh para pemuda pejuang untuk menyergap
salah satu gerobak. Padatinya disembunyikan disuatu tempat. Ketika rombongan
tentara Jepang sampai dimarkasnya dan melihat hilangnya salah satu gerobak
padati, Jepang menyadari telah terjadi insiden sabotase. Kemudian Jepang
melakukan sweping dan menyebarkan mata mata di jalan yang di lalui padati
tersebut.
Esok harinya
masyarakat Pariaman dikejutkan oleh mobilisasi tentara Jepang ke Pauh. Pauh pun
dikepung Jepang dari berbagai penjuru. Para pemuda ditangkap dan sebagian
melarikan diri. Pemuda pejuang menduga ada yang membocorkan penyergapan padati
kemarin. Hasil penyelidikan, dicurigai Too Ghan pemilik lapau kopi di Kp. Nieh.
Dia pagi pagi sekali telah berada di Pasar Pauh. Ada yang melaporkan bahwa Too
Ghan tidak seperti biasanya, sambil membeli daging ia menunjukan tingkah
mencurigakan. Dia selalu bertanya pada orang lain tentang peristiwa penyergapan
terhadap gerobak padati Jepang. Selama dua hari dilakukan penyelidikan,
kesimpulannya adalah benar bahwa ia adalah mata mata Jepang. Malam harinya Too
Ghan diciduk dirumahnya dan langsung dibawa kesuatu tempat. Penagkapan juga
dilakukan terhadap adik perempuannya yang ikut membantu Too Ghan menjadi mata
mata. Keduanya lalu di bunuh dan dikuburkan disekitar rel kereta api antara Kp.
Nieh dan Kp. Kaliang.
Esok harinya Etnis Cina
buncah mendengar kabar “pembantaian” dua orang Cina . Etnis cina beramai ramai
menemui ketua mereka Kapten Chai . Menyaksikan suasana penuh ketakutan
dikalangan warganya , dan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Kapten
Chai segera mengeluarkan seruan. Hari itu warga Cina diminta untuk segera
meninggalkan Pariaman. Maka terjadilah eksodus besar besaran Etnis Cina dari Pariaman.
Pertanyaanya benarkah
ada rencana untuk menghabisi Etnis Cina dikalangan pejuang? Kala itu tak pernah
ada niat untuk menghabisi Etnis Cina. Hanya kebetulan pada waktu itu yang
menjadi mata mata adalah Too Ghan dan adiknya yang berasal dari Etnis Cina.
Serta tidak ada pengusiran terhadap Etnis Cina dari Pariaman. Etnis Cina
melakukan eksodus besar besaran dari Pariaman atas seruan Kapten Chai, karena
tidak adanya jaminan keamanan dan keselamatan dari para tokoh di Pariaman. Itu
saja, tidak lebih.
Sumber : Bagindo Armaidi Tanjung
(dkk), Kehidupan Banagari Di Kota
Pariaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar